Rabu, 05 Agustus 2009

Rumah Adat Dulohupa

Kekayaan budaya indonesia luar biasa sekali,
beragam rumah tradisional merupakan salah satu inspirasi dalam design

Rumah Adat Dulohupa
merupakan balai musyawarah dari kerabat kerajaan.
Terbuat dari papan dengan bentuk atap khas daerah tersebut.

Pada bagian balakangnya terdapat anjungan tempat para raja dan kerabat istana beristirahat sambil melihat kegiatan remaja istana bermain sepak raga. Saat ini rumah adat tersebut berada di tanah seluas + 500m² dan dilengkapi dengan taman bunga, bangunan tempat penjualan cenderamata, serta bangunan garasi bendi kerajaan yang bernama talanggeda. Pada masa pemerintahan para raja, rumah adat ini digunakan sebagai ruang pengadilan kerajaan.


Bangunan ini terletak di Kelurahan Limba
Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo
.

Selain Rumah adat Dulohupa juga ada Rumah Adat Bandayo Pomboide yang terletak di depan Kantor Bupati Gorontalo. Bantayo artinya 'gedung' atau 'bangunan', sedangkan Pomboide berarti 'tempat bermusyawarah' . Bangunan ini sering digunakan sebagai lokasi pagelaran budaya serta pertunjukan tari di Gorontalo. Di dalamnya terdapat berbagai ruang khusus dengan fungsi yang berbeda. Gaya arsitekturnya menunjukkan nilai-nilai budaya masyarakat Gorontalo yang bernuansa Islami.

Minggu, 02 Agustus 2009

Gajah Manyusu (rumah Banjar)



Indonesia kaya dengan budaya dan Gajah Manyusu adalah salah satu rumah tradisional suku Banjar (rumah Banjar) di Kalimantan Selatan. Pada rumah induk memakai atap perisai buntung dengan tambahan atap sengkuap (Sindang Langit) pada emper depan, sedangkan anjungnya memakai atap sengkuap (Pisang Sasikat) atau dapat pula menggunakan atap perisai.

Rumah Gajah Manyusu di Kelurahan Antasan Besar, Banjarmasin Tengah, Banjarmasin.

Rumah Gajah Manyusu di Kelurahan Pasayangan Selatan, Martapura. Pamedangan di depan hanya sebelah kanan.


Pola umum rumah Gajah Manyusu
Rumah Gajah Manyusu di Kelayan Dalam, Banjarmasin Tengah, Banjarmasin.

Ciri-cirinya :

  • Tubuh bangunan induk memakai atap perisai buntung (bahasa Banjar : atap gajah hidung bapicik) yang menutupi serambi yang disebut pamedangan.
  • Pada teras terdapat 4 buah pilar yang menyangga emper depan (bahasa Banjar : karbil) yang memakai atap sengkuap yang disebut atap Sindang Langit. Empat pilar penyangga emper depan (karbil) pada teras dapat diganti model konsol.
  • Pada Tawing Hadapan terdapat tangga naik yang disebut Tangga Hadapan dengan posisi lurus ke depan.
  • Terdapat Serambi yang disebut Pamedangan yang menggunakan pagar susur yang disebut Kandang Rasi. Serambi dapat dibuat berukuran kecil saja pada salah satu sudut.
  • Sayap bangunan (anjung) memakai atap sengkuap yang disebut atap Pisang Sasikat seperti pada rumah Bubungan Tinggi.
  • Pada tipe lainnya sayap bangunan yang disebut anjung menggunakan model Anjung Surung seperti pada rumah Cacak Burung.


Ruangan yang berturut-turut dari depan ke belakang
  1. Ruang terbuka/teras rumah yang disebut Surambi Sambutan
  2. Ruang setengah terbuka/serambi atas yang disebut Pamedangan
  3. Ruang Tamu yang disebut Ambin Sayup
  4. Ruang Dalam yang disebut Palidangan diapit oleh Anjung terdiri dari Anjung Kanan dan Anjung Kiwa
  5. Pantry yang disebut Padapuran atau Padu
"Rumah ini mempunyai ciri pada bentuk atap limas dengan hidung bapicik (atap mansart) pada bagian depannya. Anjung mempunyai atap Pisang Sasikat, sedang surambinya beratap Sindang Langit"

Rumah Susun



Rusun adalah kepanjangan dari rumah susun.
 
Kerap dikonotasikan sebagai apartemen versi sederhana , walupun sebenarnya apartemen bertingkat sendiri bisa dikategorikan sebagai rumah susun.
Rusun menjadi jawaban atas terbatasnya lahan untuk pemukiman di daerah perkotaan. Karena mahalnya harga tanah di kota besar maka masyarakat terpaksa membeli rumah di luar kota padahal ini adalah pemborosan.
Pemborosan terjadi pada :
  1. pemborosan waktu
  2. pemborosan biaya
  3. pemborosan lingkungan (karena pencemaran)
  4. pemborosan sosial (karena tersitanya waktu untuk bersosialisasi)


    Rusunami merupakan akronim dari Rumah Susun Sederhana Milik.




    Rumah Susun atau Rusun merupakan kategori resmi pemerintah I
    ndonesia untuk tipe hunian bertingkat seperti apartemen, kondominium, flat, dan lain-lain. Namun pada perkembangannya kata ini digunakan secara umum untuk menggambarkan hunian bertingkat kelas bawah. Penambahan kata Sederhana setelah rusun bisa berakibat negatif, karena pada pikiran masyarakat awam rusun yang ada sudah sangat sederhana.
    Kenyataannya rusunami yang digalakkan pemerintah merupakan rusuna bertingkat tinggi yaitu rusun dengan jumlah lantai lebih dari 8 yang secara fisik luar hampir mirip dengan rusun apartemen yang dikenal masyarakat luas.
     
    Kata Milik berarti seseorang pengguna tangan pertama harus membeli dari pengembangnya.

    Sedangkan Rusunawa atau Rumah Susun Sederhana Sewa berarti pengguna harus menyewa dari pengembangnya.

    Istilah lain yang sering diusung oleh para pengembang untuk rusunami adalah Apartemen Bersubsidi. Pengembang lebih senang menggunakan istilah apartemen daripada rusun kare
    na konotasi negatif yang melekat.



    Sedangkan penambahan kata bersubsidi disebabkan karena pemerintah memberikan subsidi bagi pembeli rusunami jika memenuhi syarat. Sedangkan yang tidak memenuhi syarat tetap dapat membeli rusunami namun tidak mendapatkan subsidi.

    Omo sebua ( rumah adat nias )


    Omo sebua adalah jenis rumah adat atau rumah tradisional dari Pulau Nias, Sumatera Utara. Omo sebua adalah rumah yang khusus dibangun untuk kepala adat desa dengan tiang-tiang besar dari kayu besi dan atap yang tinggi. Omo sebua didesain secara khusus untuk melindungi penghuninya daripada serangan pada saat terjadinya perang suku pada zaman dahulu.


    Akses masuk ke rumah hanyalah tangga kecil yang dilengkapi pintu jebakan. Bentuk atap rumah yang sangat curam dapat mencapai tinggi 16 meter. Selain digunakan untuk berlindung dari serangan musuh, omo sebua pun diketahui tahan terhadap goncangan gempa bumi.
    MATERIAL UNTUK STRUKTUR RUMAH ADAT NIAS 
    Batu Gehomo
    Batu dengan permukaan rata yang digunakan untuk menyanggah tiang Ehomo (memisahkan tiang Ehomo dari permukaan tanah)
    Batu cadas sungai yang pahat berbentuk kotak

    Batu Ndriwa
    Batu dengan permukaan rata yang digunakan untuk menyanggah tiang Ndriwa (memisahkan tiang Ndriwa dari permukaan tanah)
    Batu cadas sungai yang pahat berbentuk kotak.

    Ehomo
    Tiang kayu bulat (pillar) penyanggah struktur bangunan tradisional Nias yang diletakan secara vertikal.
    Berbentuk balok bulat dan menggunakan material kayu Berua atau Manawa Dano

    Ehomo Mbumbu
    Tiang kayu bulat (pillar) penyanggah atap

    Fafa
    Papan kayu
    Menggunakan material kayu Berua atau Manawa Dano

    Fafa Daro-daro
    Papan untuk tempat duduk
    Menggunakan material kayu Berua atau Manawa Dano

    Fafa Gahembato
    Papan untuk lantai
    Menggunakan material kayu Berua atau Manawa Dano

    Folano

    Gaso
    Balok kayu yang menjadi bagian dari struktur kerangka atap bangunan tradisional Nias Selatan.

    Gaso Matua (Fanimba)
    Balok kayu yang menjadi bagian dari struktur kerangka atap bangunan tradisional Nias Selatan.

    Jepitan Bumbu
    Kayu yang disusun berbentu “X” yang berfungsi untuk menjepit atap rumbia yang berada di puncak atap.

    Kapita
    Balok horizontal penyanggah atap

    Lago-lago
    Papan kayu tebal yang diletakkan membujur pada bagian kiri dan kanan bangunan dan berfungsi menjepit seluruh struktur bagian bawah atap pada sebuah bangunan tradisional Nias Selatan
    Menggunakan material kayu Berua atau Manawa Dano

    Lali'owo
    Balok membujur yang menyanggah papan lantai struktur bangunan tradisional
    Berbentuk balok bulat dan menggunakan material kayu Berua atau Manawa Dano

    Ndriwa (Diwa)
    Tiang kayu bulat (pillar) penyanggah struktur bangunan tradisional Nias yang diletakan secara diagonal.
    Berbentuk balok bulat dan menggunakan material kayu Berua atau Manawa Dano

    Oto Mbao
    Berfungsi seperti kaki gajah dalam konstruksi beton. Untuk menambah kekuatan pada Ehomo atau sebagai anti gempa

    Sago
    Atap daun rumbia

    Sicholi (Sikholi)
    Papan kayu tebal yang diletakkan membujur dan berfungsi menjepit seluruh struktur lantai (Ahe Mbato) pada sebuah bangunan tradisional. Diletakkan di bagian kiri dan kanan bangunan. Ujung-ujung Sikholi akan dibentuk melengkung keatas dean diberi ragam hias ukiran.
    Menggunakan material kayu Berua atau Manawa Dano

    Siloto
    Balok melintang yang menyanggah papan lantai struktur bangunan tradisional.
    Menggunakan material kayu Berua atau Manawa Dano

    Sirau
    Penyangga

    Tangga
    Tangga kayu

    Toga (Balo-balo)
    Balok melintang yang menutup ujung Laliowo dan menyanggah posisi Laso
    Menggunakan material kayu Berua atau Manawa Dano

    Tohu-tohu

    Rumah Adat Banjar

    Jenis-jenis Rumah Adat Banjar
    1. Rumah Bubungan Tinggi
    2. Rumah Gajah Baliku
    3. Rumah Gajah Manyusu
    4. Rumah Balai Laki
    5. Rumah Balai Bini
    6. Rumah Palimbangan
    7. Rumah Palimasan (Rumah Gajah
    8. Rumah Anjung Surung (Rumah Cacak Burung)
    9. Rumah Tadah Alas
    10. Rumah Lanting
    11. Rumah Joglo Gudang
    12. Rumah Bangun Gudang
    Sejarah dan Perkembangan Rumah Adat Banjar
    Rumah adat Banjar, biasa disebut juga dengan Rumah Bubungan Tinggi karena bentuk pada bagian atapnya yang begitu lancip dengan sudut 45ยบ.

    Bangunan Rumah Adat Banjar diperkirakan telah ada sejak abad ke-16, yaitu ketika daerah Banjar di bawah kekuasaan Pangeran Samudera yang kemudian memeluk agama Islam, dan mengubah namanya menjadi Sultan Suriansyah dengan gelar Panembahan Batu Habang.

    Sebelum memeluk agama Islam Sultan Suriansyah tersebut menganut agama Hindu. Ia memimpin Kerajaan Banjar pada tahun 1596–1620.

    Pada mulanya bangunan rumah adat Banjar ini mempunyai konstruksi berbentuk segi empat yang memanjang ke depan.

    Namun perkembangannya kemudian bentuk segi empat panjang tersebut mendapat tambahan di samping kiri dan kanan bangunan dan agak ke belakang ditambah dengan sebuah ruangan yang berukuran sama panjang. Penambahan ini dalam bahasa Banjar disebut disumbi.

    Bangunan tambahan di samping kiri dan kanan ini tamapak menempel (dalam bahasa Banjar: Pisang Sasikat) dan menganjung keluar.

    Bangunan tambahan di kiri dan kanan tersebut disebut juga anjung; sehingga kemudian bangunan rumah adat Banjar lebih populer dengan nama Rumah Ba-anjung.

    Sekitar tahun 1850 bangunan-bangunan perumahan di lingkungan keraton Banjar, terutama di lingkungan keraton Martapura dilengkapi dengan berbagai bentuk bangunan lain.

    Namun Rumah Ba-anjung adalah bangunan induk yang utama karena rumah tersebut merupakan istana tempat tinggal Sultan.

    Bangunan-bangunan lain yang menyertai bangunan rumah ba-anjung tersebut ialah yang disebut dengan Palimasan sebagai tempat penyimpanan harta kekayaan kesultanan berupa emas dan perak.

    Balai Laki adalah tempat tinggal para menteri kesultanan, Balai Bini tempat tinggal para inang pengasuh, Gajah Manyusu tempat tinggal keluarga terdekat kesultanan yaitu para Gusti-Gusti dan Anang.

    Selain bangunan-bangunan tersebut masih dijumpai lagi bangunan-bangunan yang disebut dengan Gajah Baliku, Palembangan, dan Balai Seba.

    Pada perkembangan selanjutnya, semakin banyak bangunan-bangunan perumahan yang didirikan baik di sekitar kesultanan maupun di daerah-daerah lainnya yang meniru bentuk bangunan rumah ba-anjung.

    Sehingga pada akhirnya bentuk rumah ba-anjung bukan lagi hanya merupakan bentuk bangunan yang merupakan ciri khas kesultanan (keraton), tetapi telah menjadi ciri khas bangunan rumah penduduk daerah Banjar.

    Kemudian bentuk bangunan rumah ba-anjung ini tidak saja menyebar di daerah Kalimantan Selatan, tetapi juga menyebar sampai-sampai ke daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

    Sekalipun bentuk rumah-rumah yang ditemui di daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur mempunyai ukuran yang sedikit berbeda dengan rumah Ba-anjung di daerah Banjar, namun bentuk bangunan pokok merupakan ciri khas bangunan rumah adat Banjar tetap kelihatan.

    Di Kalimantan Tengah bentuk rumah ba-anjung ini dapat dijumpai di daerah Kotawaringin Barat, yaitu di Pangkalan Bun, Kotawaringin Lama dan Kumai.

    Menyebarnya bentuk rumah adat Banjar ke daerah Kotawaringin ialah melalui berdirinya Kerajaan Kotawaringin yang merupakan pemecahan dari wilayah Kerajaan Banjar ketika diperintah oleh Sultan Musta’inbillah.

    Sultan Musta’inbillah memerintah sejak tahun 1650 sampai 1672, kemudian ia digantikan oleh Sultan Inayatullah.

    Kerajaan Kotawaringin yang merupakan pemecahan wilayah Kerajaan Banjar tersebut diperintah oleh Pangeran Dipati Anta Kesuma sebagai sultannya yang pertama.

    Menyebarnya bentuk rumah adat Banjar sampai ke daerah Kalimantan Timur disebabkan oleh banyaknya penduduk daerah Banjar yang merantau ke daerah ini, yang kemudian mendirikan tempat tinggalnya dengan bentuk bangunan rumah ba-anjung sebagaimana bentuk rumah di tempat asal mereka.

    Demikianlah pada akhirnya bangunan rumah adat Banjar atau rumah adat ba-anjung ini menyebar kemana-mana, tidak saja di daerah Kalimantan Selatan, tetapi juga di daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

    Sabtu, 01 Agustus 2009

    Rumah Tropikal Modern

    Adaptasi rumah tinggal yang menyesuaikan dengan kondisi iklim Indonesia yang tropis dan identik dengan ekologi tropisnya, yakni hutan yang subur, dianggap sebagai sebagai rumah tropikal modern.

    Unsur modern yang ditambahkan dalam rumah tropikal memiliki arti terkini atau terbaru. Trend desain rumah saat ini yang populer adalah berkonsep minimalis.
    Konsep desain minimalis sangat menguntungkan rumah yang memiliki keterbatasan lahan. Kendati demikian, keterbatasan lahan bukanlah arti keseluruhan dari konsep desain minimalis ( Praktis, simpel, dan efisien adalah karakter dari desain minimalis )

    Konsep keseimbangan rumah tropis sebenarnya kental dengan nuansa natural dan menyatu dengan alam. Ekologi alam tropis itu diwujudkan dalam konsep lingkungan dengan desain rumah yang memberikan banyak ruang terbuka dan banyak tanaman hijau, yang diletakkan di luar atau di dalam ruangan. Penggunaan atap genteng tanah liat atau sirap terlihat lebih alami. Bentuk-bentuk bangunan yang simpel karena hanya berbentuk dasar, yakni persegi atau kotak, mencerminkan rumah modern.

    Pada rumah modern yang saat ini berkonsep minimalis, tidak ada bentuk-bentuk yang diolah dengan ukiran bergaya Eropa atau Jawa yang terkesan berat.

    Saat ini konsep rumah tropikal modern menjadi tren konsep pengembang dalam membangun kawasan rumah tinggal. Bahkan, konsep rumah tropikal modern dijual dengan harga yang sangat tinggi.

    Rumah tropis sebaiknya diberi bukaan jendela dan pintu yang lebar, sirkulasi udara yang lapang, serta plafon yang tinggi. Bukaan lebar dapat dimaksimalkan dengan menciptakan teras di sekeliling rumah. Tentu bila kondisi lahan Anda memungkinkan.

    Dua musim ekstrem daerah tropis adalah musim panas dan musim hujan. Di musim hujan, curah hujan tinggi. Artinya, jumlah air yang menimpa atap rumah Anda akan cukup banyak. Konsekuensinya, atap harus dapat mengalirkan air dengan cukup cepat. Desain rumah yang cocok untuk daerah bercurah hujan tinggi adalah kemiringan atap yang cukup besar. Disarankan minimal kemiringan atap adalah 30 derajat.

    Kelembaban tinggi beresiko pada tumbuhnya jamur, dan kayu yang mudah menjadi lapuk. Kelembaban tinggi dapat dikurangi dengan memaksimalkan sinar matahari. Upayakan agar semua ruang mendapatkan sinar matahari yang cukup dari berbagai arah. Daerah-daerah basah, seperti kamar mandi, dapur sebaiknya diletakkan ditempat yang mendapat akses sinar matahari langsung. Hindari posisi furniture yang menciptakan ruang-ruang lembab.

    Rumah Pantai

    Rumah pantai selalu identik dengan suasana resort, karena lingkungan pantai sendiri sudah menawarkan suasana relaksasi. Bahkan rumah pantai juga bisa menjadi simbol status, karenanya daerah wisata dengan banyak pantai, biasanya memiliki rumah-rumah peristirahatan.
    Arsitektur rumah pantai, sebaiknya memperhatikan iklim pantai yang cukup spesifik, yaitu iklim tropis basah yang dipengaruhi oleh uap air laut, menjadikan udara sekitar pantai menjadi lembab. Sehubungan dengan itu, perabot seringkali menjadi 'korban' dari hawa lembab, bila tidak diimbangi dengan penghawaan alami yang baik. Dalam arti, perabot seperti lemari kayu bisa cepat lapuk bila udara lembab berkumpul di sudut ruangan.


    Penggunaan bahan dari besi juga harus banyak dihindari karena rawan dengan karat